Latest Updates

Aqidah Imam Asy Syafi'i RAHIMAHULLAAH

19:50
•
Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani, katanya, “Apabila ada orang yang dapat mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada didalam hati saya, maka orang itu adalah Imam Syafi’i.”

Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendepat didepan beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid. Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada diri Anda, maka apa sebenarnya yang ada pada diri Andar?

Tiba-tiba beliau marah, lalu bertanya: “Tahukah kamu, dimana kamu sekarang?” Saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata : “Ini adalah tempat dimana Allah menenggelamkan Fir’aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Apakah para sahabat pernah membicarakan hal itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Berapakah jumlah bintang dilangit?”, tanya beliau lagi. “Tidak tahu”, jawab saya. “Apakah kamu tahu jenis bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang-bintang itu diciptakan?”, tanya beliau. “Tudaj tahu” jawab saya. “Itu masalah makhluk yang kamu lihat dengan mata kepalamu, ternyata kamu tidak tahu. Mana mungkni kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu”, kata beliau mengakhiri.

Kemudian beliau menanyakan kepada saya tentang masalah wudhu’, ternyata jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkan masalah itu menjadi empat masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau berkata: “Masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari. Tetapi kamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu Allah. Ketika hal itu berbisik dalam hatimu. Kembali saja kepada firman Allah :

“Dan tuhanmu adalah Tuhan yang satu. Tidak ada tuhan (yang Haq) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berjalan dilautan dengan membawa barang-barang bermanfaat bagi manusia, dan air hujan yang diturunkan Allah dari langit dimana kemudian dengan air itu Allah hidupkan bumi setelah ia mati (gersang) dan Allah menyebarkan diatas bumi semua binatang melata, dan pengisaran angin dan awan yang direndahkan antara langit dan bumi, semuanya itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 163-164)

“Karenanya”, lanjut Iman Syafi’i, “Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan janganlah kamu memaksa-maksa diri untuk mengetahui hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh akalmu.

Dalam kitab Juz al-I’tiqad, yang disebut-sebut sebagai karya Imam Syafi’i, dari riwayat Abu Thalib al-’Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:

“Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau: “Allah Tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, yang siapapun dari umatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka kafirlah dia. Namun apabila ia menyimpang dari ketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidap apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin dilakukan dengan akal dan pikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah. Bahwa Allah itu mendengar, Allah mempunyai dua tangan:

“Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (al-Maidah: 64)

Dan bahwa Allah itu mempunyai tangan kanan

“

Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah” (az-Zumar: 67)

Dan Allah juga punya wajah:

“Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah Allah” (al-Qashash: 88 )

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (ar-RahmanL 27)

Allah juga mempunyai telapak kaki, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa salam :

“Sehingga Allah meletakkan telapak kaki-Nya di Jahannam” (Shahih Bukhari, Kitab at-Tafsir, VII/594. Shahih Muslim, kitab al-Jannah, IV/2187)

Allah tertawa terhadap hamba-Nya yang mukmin, sesuai dengan sabda Rasululllah kepada orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah, bahwa “kelah akan bertemu dengan Allah, dan Allah tertawa kepadanya” (Shahih Bukhari, kitab al-Jihad, VI/39. Shahih Muslim, kitab al-Imarat, III(1504)

Allah turun setiap malam ke langit yang terdekat dengan bumi, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam tentang hal itu. Mata Allah tidak pecak sebelah, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam yang menyebutkan, bahwa “Dajjal itu pecak sebelah matanya. Sedangkan Allah tidak pecak sebelah mata-Nya”. (Shahih Bukhari, kitab al-Fitan, XIII/91. Shahih Muslim kitab al-Fitan, IV/2248 )

Orang-orang mukmin kelak akan melihat Allah pada hari kiamat dengan mata kepala mereka, seperti halnya mereka melihat bulan purnama. Allah juga punya jari jemari, berdasarkan hadit Nabi Shallallahu alaihi wa salam:

“

Tidak ada satu buah hati kecuali ia berada diantara jari-jari Allah ar-Rahman” (Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, IV/182. Sunan Ibn Majah, I/72, Mustadrak al-hakim, I/525. al-Ajiri, asy-syari’ah, hal. 317. Ibn Mnada, ar-Radd)

Pengertian sifat-sifat seperti ini, dimana Allah telah mensifati diri-Nya sendiri dan Nabi Shallallahu alaihi wa salam juga mensifatiNya, tidak dapat diketahui hakikatnya oleh akal dan pikiran. Orang yang tidak mendengar keterangan tentang hal itu tidak dapat disebut kafir. Apabila ia telah mendenga keterangan sendiri secara langsung, maka ia wajib meyakininya seperti halnya kita harus menetapkan sifat-sifat itu tanpa tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana juga Allah tidak menyerupakan makhluk apapun dengan diri-Nya, Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (asy-Syura: 11)

(sumber : Aqidah Imam Empat karangan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais. Diterjemahkan oleh Ali Musa Ya’qub, MA)

"Hari inikah Pemakamanku?" (Muhasabah)

19:48
•
Hari inikah pemakamanku?
Perlahan, tubuhku ditutupi tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka,
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan...

Orang tua yang belum sempat ku bahagiakan pun pergi
Saudara yang sering ku sakiti pun tak menemani
Teman dekat yang kubanggakan tak juga disisi
Harta yang ku kumpulkan tak juga terbawa sedikitpun
Jasad yang dulu tegak dengan kesombongan kini terdiam tak berkutik

Tetapi aku tetap sendiri,
disini, menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma'af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri...

Tuhanku, (entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika Kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika Kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja...
Aku akan berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku,
yang selama ini telah aku sakiti hatinya
yang selama ini telah aku bohongi
Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yg sering ku umbar dulu.

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,
teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka,
maafkan aku ayah dan ibu,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu ...

beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh-sungguh beramal soleh,
Aku sungguh ingin bersujud dihadapan-Mu,
bersama mereka ...

begitu sesal diri ini,
karena hari-hari telah berlalu tanpa makna penuh kesia-siaan,
kesenangan yang pernah kuraih dulu,
tak ada artinya sama sekali ...

mengapa ku sia-siakan saja,
waktu hidup yang hanya sekali itu,
andai ku bisa putar ulang waktu itu ...

Hari inikah pemakamanku?
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan ...

Jalan Yang Lurus, Jalan Org2 Yg diberi ni'mat dan menyebarkan ni'mat ...

19:45
•
Ini adalah kisah seorang Syekh yang sangat terkenal di Zamannya bahkan sampai hari ini, dia adalah Yang Mulia Syekh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz :

Penulis : Mamduh Farhan al-Buhairi (Pengasuh Majalah Qiblati)

Salah seorang murid Syaikh Ibnu Utsaimin menceritakan kisah ini kepada Syekh Mamduh Farhan al-Buhairi. Dia berkata: “Pada salah satu kajian Syaikh Ibn ‘Utsaimin di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang di dalamnya ada syubhat, beserta pendapat dari Syaikh bin Baz tentang masalah tsb.

Maka Syaikh ‘Utsaimin menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh bin Baz. Di tengah-tengah kajian, tiba-tiba ada seorang lelaki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah disampingku, kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannyapun keras hingga para muridpun mengetahuinya.

Di saat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi, aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis. Ternyata dia dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah Al-Qur’an. Akupun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi, apa yang membuatmu menangis?”

Maka diapun menjawab dengan bahasa yang mengharukan:

“JazakalLaahu khairan.” Akupun mengulangi pertanyaanku sekali lagi: “Apa yang membuatmu menangis akhi?” Diapun menjawab dengan tekanan suara yang haru: “Tidak ada apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh bin Baz, maka akupun menangis.” Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh bin Baz, yaitu 10 tahun yang lalu, aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengharuskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tsb membutuhkan 7000 Riyal Saudi (kurang lebih 17 juta Rupiah). Jika tidak segera dioperasi dalam sepekan, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan ibuku berusia lanjut.

Saat itu, aku tidak memiliki uang selain 1000 Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka akupun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman, tapi mereka menolak. Maka akupun menangis sepanjang hari, dia adalah ibu yang telah merawatku, dan tidak tidur karena aku. Pada situasi yang genting tsb, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam 2 malam.

Akhrinya, beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah tsb, aku tidak merasakan apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka, setelah itu duniapun terasa menjadi gelap. Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri, dan mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi.

Setelah itu tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata: “Makanlah, dengan membaca bismillah!” Akupun tidak mempercayai apa yang tengah kualami. Dan saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata: “Apakah engkau sudah makan?” Akupun menjawab: “Ya, sudah.”

Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya, dan kami shalat subuh. Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk di atas kursi di bagian depan masjid, sementara jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya. Kemudian Syaikh tsb memulai berbiacara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka, maka akupun meletakkan tanganku di atas kepalaku karena malu dan takut.

Ya Allah, apa yang telah kulakukan? Aku telah mencuri di rumah Syaikh bin Baz? Sebelumnya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan. Akhirnya setelah Syaikh bin Baz selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikhpun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukkanku di sisi beliau. Di tengah makan beliau bertanya kepadaku: “Siapa namamu?” Kujawab: “Murtadho” Beliau bertanya lagi: “Mengapa engkau mencuri?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata: “Baik, kami akan memberimu 9000 Riyal. “Aku berkata kepada beliau: “Yang kubutuhkan cuma 7000 Riyal” Beliau menjawab: “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”

Akupun mengambil uang tsb, dan berterima kasih kepada beliau dan berdo’a untuk beliau. Aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibu. dan Alhamdulillah, ibuku sembuh. 5 bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh bin Baz, dan aku pergi ke rumah beliau. Aku mengenali beliau dan beliaupun mengenaliku, kemudian beliaupun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya: “Apa ini?” Kujawab: “Itu sisanya” maka beliau berkata: “Ini untukmu” kukatakan: “Wahai Syaikh saya memiliki permohonan kepada anda” Maka beliau menjawab: “Apa itu wahai anakku” lalu kujawab: “Aku ingin bekerja kepada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.” Maka beliau menjawab: “Baiklah” Aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga beliau wafat.

Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat ke rumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata: “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja. Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya, dan mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberi tahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang penjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu.

Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya: “Kabar apa?” Mereka menjawab: “Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawanya ke kepolisian.” Maka Syaikhpun berkata sambil marah: “Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan.”

Maka disinilah kisah tsb berakhir. Aku katakan kepada pemuda tsb: “Sungguh satu matahari sudah terbenam, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdo’a untuk Syaikh.”

Mudah-mudahan Allah merahmati Syaikh bin Baz dan Ibnu ‘Utsaimin, dan menempatkan keduanya di keluasan Syurga-Nya, Amiin…
 
Copyright © Fathul dot Com. Designed by OddThemes