Latest Updates

Kajian "Cinta Dunia" & "jadilah pemenang jangan pecundang"

20:00
•
Alhamdulillah, wasshalaatu wassalaamu 'alaa Rasuulillaah. Jadilah SEIMBANG, karena kita jadi umat terbaik dengan itu :
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan 95 agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. ..... (QS. 2:143) "

95 Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

Cinta Dunia yang Berlebih (KH. Abdullah Gymnastiar)
Rasulullah saw adalah contoh seorang pemimpin yang sangat dicintai umatnya; seorang suami yang menjadi kebanggaan keluarganya; pengusaha yang dititipi dunia tapi tak diperbudak oleh dunia karena beliau adalah orang yang sangat terpelihara hatinya dari silaunya dunia. Tidak ada cinta terhadap dunia kecuali cinta terhadap Allah. Kalaupun ada cinta pada dunia, hakikatnya itu adalah cinta karena Allah. Inilah salah satu rahasia sukses Rasulullah saw.

Apa yang dimaksud dengan dunia? Firman-Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan… Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid:20)

Dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah swt. Misalnya, salat, saum atau sedekah, tetap dikatakan urusan dunia jika niatnya ingin dipuji makhluk hingga hati lalai terhadap Allah swt.

Sebaliknya, orang yang sibuk siang malam mencari uang untuk didistribusikan kepada yang memerlukan atau untuk kemaslahatan umat — bukan untuk kepentingan pribadi — bukan untuk kepentingan pribadi terhadap Allah swt, walau aktivitasnya seolah duniawi. Artinya, segala sesuatu yang membuat kita taat kepada Allah swt, maka hal itu bukanlah urusan dunia.

Bagaimana ciri orang yang cinta dunia? Jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah atau capek memikirkan yang tak ada. Makin cinta pada dunia, makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.

Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar ke pangkat atau kedudukan, maka ia akan takut pangkat atau kedudukannya diambil. Oleh sebab itu, pencinta dunia itu tidak pernah merasa bahagia.

Rasulullah saw yang mulia, walau dunia lekat dan mudah baginya, tetapi semua itu tidak pernah sampai mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan. Beliau juga pernah menyedekahkan kambing satu lembah. Inilah yang membuat beliau tak pernah terpikir untuk berbuat aniaya.

Semua yang ada di langit dan di bumi titipan Allah swt semata. Kita tidak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia hanya mampir sebentar saja. Terlahir sebagai bayi, membesar sebentar, semakin tua, dan akhirnya mati. Kemudian terlahir manusia berikutnya, begitu seterusnya.

Bagi orang-orang yang telah sampai pada keyakinan bahwa semuanya titipan Allah dan total milik-Nya, ia tidak akan pernah sombong, minder, iri ataupun dengki. Sebaliknya, ia akan selalu siap titipannya diambil oleh Pemiliknya, karena segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini tidak ada artinya. Harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak akan ada artinya jika tidak digunakan di jalan Allah. Hal yang berarti dalam hidup ini hanyalah amal-amal kita. Oleh sebab itu, jangan pernah keberadaan atau tiadanya “dunia” ini meracuni hati kita. Jika memiliki harta dunia, jangan sampai sombong, dan jika tidak adanya pun, tidak perlu minder.

Kita harus meyakini bahwa siapa pun yang tidak pernah berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, maka akan sengsara hidupnya. Mengapa? Sumber segala fitnah dan kesalahan adalah ketika seseorang begitu mencintai dunia. Semoga Allah swt mengaruniakan pada kita nikmatnya hidup yang tak terbelenggu oleh dunia. Wallahu a’lam.

PEMENANG DAN PECUNDANG (dari blog Ust. Abuyahya)
PEMENANG berfokus untuk mencapai sukses.
PECUNDANG berfokus untuk menghindari kegagalan.

PEMENANG membantu orang lain mencapai sukses agar dirinya juga mencapai sukses.
PECUNDANG hanya bisa mengkritik orang lain agar dirinya merasa hebat dan kelihatan lebih baik.

PEMENANG mencari solusi dan bertindak memecahkan masalah.
PECUNDANG membicarakan masalah dan tidak berbuat apa-apa.

PEMENANG bertindak sesuai prioritas untuk mencapai targetnya.
PECUNDANG bertindak tanpa tujuan karena tidak mempunyai target.

PEMENANG menganggap kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
PECUNDANG menganggap kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda.

PEMENANG menganggap kesulitan adalah tantangan dan berhasil menaklukannya.
PECUNDANG menganggap kesulitan adalah akhir dari segalanya dan alasan untuk menyerah.

PEMENANG menemukan solusi dari setiap masalah.
PECUNDANG menemukan masalah dari setiap solusi.

PEMENANG tidak berkeluh kesah bekerja keras mencapai sukses.
PECUNDANG selalu berkeluh kesah walaupun tidak berbuat apa-apa.

Kemudahan2 Sudah Menunggu Di Depanmu, Percayalah!

19:56
•
AlhamdulilLaahi wash Shalaatu was Salaamu 'alaa RasuulilLaahi, wa ba'du

Sejak pindah dari Griya Permai (Perumahan Martuwa Indah ... maksa) pertengahan tahun lalu ke Graha Puspa (yg ini perumahan beneran), saya agak jarang ke tengah kota Bandung. Lebih sering menjalani rute Lembang-Cikole.

Hari Selasa yang lalu saya dan istri saya sengaja janjian di rumah lama kami (Griya Permai, Jln. Veteran 67 Bandung), setelah masing-masing menjalani kesibukan berbeda : istri saya mengobati jasmani di tempat prakteknya, dan saya mengobati rohani ngisi pengajian ;).

Ternyata, paviliun rumah sudah dikontrakkan jadi outlet pempek Palembang. Sambil nunggu, saya makan dulu pempek (tentu setelah telpon nyonya, minta ijin makan duluan) dan memesan es kacang merah (kacang abang), yang baru pertamakalinya saya temui. Khoq bisa ya, kacang merah jadi "merk" es, padahal biasanya disayur? Tapi, karena sering juga makan es campur yang di atasnya ditambah variasi kacang hijau (kacang ijo), saya bersabar saja menunggu pesanan datang. Dalam hati saya berfikir, paling-paling sama aja : ditempatkan sedikit di atas es, buat variasi saja.

Ketika pesanan datang, ternyata dugaan saya sepintas tidak salah. Setumpuk es ditempatkan dalam mangkuk gelas, dan di atasnya ada sedikit kacang merah ditambah susu coklat. Saya tidak sabar lagi, langsung saja saya dulukan menyantap kacang dan coklatnya yang di atas es sampai habis...hmm, ternyata enak juga! Tapi, khoq pelit amat, ya, kacangnya cuma sedikit. Kebayang "penderitaan" menghabiskan es sisanya, karena yang terbaik sudah disantap duluan.

Dengan ogah-ogahan saya santap saja es di bawahnya sesuap demi sesuap. Eh, ternyata di balik timbunan es masih ada sesuatu lagi. SubhaanalLaah, ternyata di dasar mangkuk terdapat buanyaak..kacang merah yang tadi saya "dambakan"! Tentu semangat menghabiskan sisanya berbalik seratus delapan puluh derajat jadi "semangat empat lima". Tas...tuntas!

Apa maksud saya menulis semua ini?

Saya teringat bunyi suatu hadits, yang kurang lebih maknanya : Allah SWT menertawakan hambaNya yang dirundung susah, padahal Allah mengetahui di hadapan hamba tersebut sudah banyak kemudahan yang telah Allah takdirkan.

Nah, selamat ditertawakan, atau lebih baik bersabar saja?

" [5] Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

[6] sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

[7] Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,

[8] dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. " (Alam Nasyrah : 5-8).

WalLaahu Ta'aalaa a'lam.

Aqidah Imam Asy Syafi'i RAHIMAHULLAAH

19:50
•
Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani, katanya, “Apabila ada orang yang dapat mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada didalam hati saya, maka orang itu adalah Imam Syafi’i.”

Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendepat didepan beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid. Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada diri Anda, maka apa sebenarnya yang ada pada diri Andar?

Tiba-tiba beliau marah, lalu bertanya: “Tahukah kamu, dimana kamu sekarang?” Saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata : “Ini adalah tempat dimana Allah menenggelamkan Fir’aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Apakah para sahabat pernah membicarakan hal itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Berapakah jumlah bintang dilangit?”, tanya beliau lagi. “Tidak tahu”, jawab saya. “Apakah kamu tahu jenis bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang-bintang itu diciptakan?”, tanya beliau. “Tudaj tahu” jawab saya. “Itu masalah makhluk yang kamu lihat dengan mata kepalamu, ternyata kamu tidak tahu. Mana mungkni kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu”, kata beliau mengakhiri.

Kemudian beliau menanyakan kepada saya tentang masalah wudhu’, ternyata jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkan masalah itu menjadi empat masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau berkata: “Masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari. Tetapi kamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu Allah. Ketika hal itu berbisik dalam hatimu. Kembali saja kepada firman Allah :

“Dan tuhanmu adalah Tuhan yang satu. Tidak ada tuhan (yang Haq) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berjalan dilautan dengan membawa barang-barang bermanfaat bagi manusia, dan air hujan yang diturunkan Allah dari langit dimana kemudian dengan air itu Allah hidupkan bumi setelah ia mati (gersang) dan Allah menyebarkan diatas bumi semua binatang melata, dan pengisaran angin dan awan yang direndahkan antara langit dan bumi, semuanya itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 163-164)

“Karenanya”, lanjut Iman Syafi’i, “Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan janganlah kamu memaksa-maksa diri untuk mengetahui hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh akalmu.

Dalam kitab Juz al-I’tiqad, yang disebut-sebut sebagai karya Imam Syafi’i, dari riwayat Abu Thalib al-’Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:

“Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau: “Allah Tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, yang siapapun dari umatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka kafirlah dia. Namun apabila ia menyimpang dari ketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidap apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin dilakukan dengan akal dan pikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah. Bahwa Allah itu mendengar, Allah mempunyai dua tangan:

“Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (al-Maidah: 64)

Dan bahwa Allah itu mempunyai tangan kanan

“

Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah” (az-Zumar: 67)

Dan Allah juga punya wajah:

“Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah Allah” (al-Qashash: 88 )

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (ar-RahmanL 27)

Allah juga mempunyai telapak kaki, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa salam :

“Sehingga Allah meletakkan telapak kaki-Nya di Jahannam” (Shahih Bukhari, Kitab at-Tafsir, VII/594. Shahih Muslim, kitab al-Jannah, IV/2187)

Allah tertawa terhadap hamba-Nya yang mukmin, sesuai dengan sabda Rasululllah kepada orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah, bahwa “kelah akan bertemu dengan Allah, dan Allah tertawa kepadanya” (Shahih Bukhari, kitab al-Jihad, VI/39. Shahih Muslim, kitab al-Imarat, III(1504)

Allah turun setiap malam ke langit yang terdekat dengan bumi, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam tentang hal itu. Mata Allah tidak pecak sebelah, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam yang menyebutkan, bahwa “Dajjal itu pecak sebelah matanya. Sedangkan Allah tidak pecak sebelah mata-Nya”. (Shahih Bukhari, kitab al-Fitan, XIII/91. Shahih Muslim kitab al-Fitan, IV/2248 )

Orang-orang mukmin kelak akan melihat Allah pada hari kiamat dengan mata kepala mereka, seperti halnya mereka melihat bulan purnama. Allah juga punya jari jemari, berdasarkan hadit Nabi Shallallahu alaihi wa salam:

“

Tidak ada satu buah hati kecuali ia berada diantara jari-jari Allah ar-Rahman” (Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, IV/182. Sunan Ibn Majah, I/72, Mustadrak al-hakim, I/525. al-Ajiri, asy-syari’ah, hal. 317. Ibn Mnada, ar-Radd)

Pengertian sifat-sifat seperti ini, dimana Allah telah mensifati diri-Nya sendiri dan Nabi Shallallahu alaihi wa salam juga mensifatiNya, tidak dapat diketahui hakikatnya oleh akal dan pikiran. Orang yang tidak mendengar keterangan tentang hal itu tidak dapat disebut kafir. Apabila ia telah mendenga keterangan sendiri secara langsung, maka ia wajib meyakininya seperti halnya kita harus menetapkan sifat-sifat itu tanpa tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana juga Allah tidak menyerupakan makhluk apapun dengan diri-Nya, Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (asy-Syura: 11)

(sumber : Aqidah Imam Empat karangan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais. Diterjemahkan oleh Ali Musa Ya’qub, MA)
 
Copyright © Fathul dot Com. Designed by OddThemes